Pernah Gagal
Pernah Gagal
#Jurnal _MM
Assalamualaikum.. salam lestari..
Setelah sebelumnya saya menulis jurnal dengan
judul “Semua berawal dari sini” yang menceritakan awal pendakian saya dengan
teman-teman di gunung arjuno, kali ini saya akan menulis jurnal lagi yang
menceritakan pengalaman kegagalan saya dan teman-teman sewaktu melakukan pendakian di
gunung tertinggi di pulau jawa yaitu gunung semeru.
Pendakian ini dilakukan pada pertengahan
tahun 2016 yang tepatnya adalah pada
bulan juli, seperti biasa pemilihan gunung semeru ini dilakukan dengan cara
diskusi di grup bbm, pada pendakian kali ini beranggotakan 6 orang yang terbagi
2 kelompok yakni dari nganjuk terdiri dari Edres, Elda, Yoga dan Yayak dan dari
Surabaya adalah saya dan Udin. Kami berangkat tepat pukul 7 malam secara
bersamaan karena memang jarak antara Surabaya -Tumpang dan Nganjuk – Tumpang hampir
sama yang diharapkan bisa sampai di tumpang secara bersamaan,namun masalah
terjadi karena setelah saya dan udin telah tiba terlebih dahulu di tumpang,
rombongan yang dari Nganjuk ternyata malah salah arah dan justru lewat rute
memutar yakni lewat probolinggo, dan kamipun memutuskan untuk melakukan
istirahat di tempat masing-masing, saya dan udin di tumpang dan teman-teman
lainnya di bromo dan berencana ketemu esok harinya di basecamp ranu pani. Lagi-lagi saya dan udin
tiba terlebih dahulu di basecamp ranu pani, karena telah menunggu lama tak
kunjung datang dan tidak bisa dihubungi, dengan perasaan yang campuraduk saya
dan udin pun mengikuti breafing terlebih dahulu sembari mengkontak teman-teman
yang sedang tawaf digunung bromo tersebut. Setelah breafing selesei
akhirnya merekapun tiba dengan wajah
yang sangat menggemaskan wkwk. Dan kamipun segera melakukan regristrasi untuk
melakukan pendakian gunung. Pada waktu itu pendakian semeru masih manual tidak
seperti sekarang yang harus melakukan pendaftaran secara online dulu. Setelah selesei
regristasi dan sarapan kami segera melakukan packing seperti biasa dan
selanjutnya melakukan pendakian yang tentunya harus diawali dengan doa.
Perjalanan dari basecamp hingga surganya
semeru yakni ranu kumbolo hampir tidak ada masalah apapun dan setelah melakukan
pendakian selama kurang dari 4 jam kami sampai di danau ranu kumbolo dan segera
untuk istirahat dan makan siang karena tiba sekitar jam 2, setelah kurang lebih
satu jam istirahat kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan untuk ke kalimati
dan inilah awal kesalahan kami, dengan sisa tenaga yang tersisa dan setelah
melakukan pendakian selama 4 jam akhirnya kami tiba di kalimati waktu hari
sudahpetang, segera kami mendirikan tenda dibawah rintik hujan yang membuat
badan semakin malas bergerak, setelah tenda terpasang kami lanjut memasak untuk
makan malam dan selanjutnya istirahat untuk mengumpulkan tenaga untuk muncak. Pukul
12 tepat pun kami bangun namun anggota kami ada yang mengurungkan niat untuk
muncak karena tenaga sudah terkuras habis dan cuacapun sebenarnya juga sangat
tidak mendukung, dengan berat hati kamipun semua sepakat mengurungkan niat
untuk tidak muncak dan melanutkan untuk istirahat.dan esoknya kami bangun
dengan perasaan yang campur antara sedih, kecewa, ingin marah karena hanya
dapat melihat puncak mahameru dari kalimati. Dan kamipun melakukan perjalanan
turun hari itu juga karena tidak ingin berlama-lama dengan rasa kecewa
tersebut.
Setelah sampai basecamp kamipun segera
keparkiran dan lanjut untuk melakukanperjalanan pulang, setelah berkendara
selama 10 menit masalah besarpun datang lagi, motor matic yang ditumpangi edres
dan yayak mengalami rem blong/ tidak dapat digunakan untuk mengerem. Hal ini
tentu sangat beresiko mengingat jalur yang turun sangat curam. Dengan sesekali
mengakali rem dengan menggunakan tang kamipun turun dengan amat pelan dan
hati-hati dan sesekali mengakali rem lagi dengan tang. Setelah kuramg lebih 2
jam perjalanan turun tersebut akhirnya kami sampai di tumpang dan segera pergi
ke bengkel untuk servis rem dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah
masing-masing.
Dari pengalaman tersebut banyak pelajaran
yang kami terima sebagai pendaki pemula, yakni tentang manajemen keberangkatan yang
ambruladul, perlunya mengetahui medan pendakian, perlunya kesiapan fisik, dan
perlunya mengontrol sebuah
egomasing-masing. Kami memang dapat dikatakan gagal dalam pendakian kali ini,
namun kami masih beruntung tidak melakukan kesalahan fatal dengan tidak nekat
untuk muncak karena kami masih paham karena keselamatan adalah yang palig
penting dalam pendakian, meskipun pada pendakian kali ini masih banyak
kesalahan yang kami lakukan yang sebenarnya membahayakan bagi kami sendiri. Dengan
kegagalan ini kami jadi mengerti bagaimana seharusnya mendaki yang benar, tidak
hanya menuruti ego, berfikiran yang penting naik dulu, yang penting foto diatas
dan melakukan hal bodoh lagi digunung.
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya,
kegagalan adalah pelajaran yang sangat berharga.
Sekian dari saya, mendakilah dengan penuh
tanggung jawab karena itulah tujuan utama sebenarnya.
Salam lestari.
Labels: Sebuah Jurnal

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home