Thursday, December 6, 2018

Pernah Gagal



Pernah Gagal

#Jurnal _MM

Assalamualaikum.. salam lestari..
Setelah sebelumnya saya menulis jurnal dengan judul “Semua berawal dari sini” yang menceritakan awal pendakian saya dengan teman-teman di gunung arjuno, kali ini saya akan menulis jurnal lagi yang menceritakan pengalaman kegagalan saya dan teman-teman sewaktu melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau jawa yaitu gunung semeru.
Pendakian ini dilakukan pada pertengahan tahun 2016 yang tepatnya  adalah pada bulan juli, seperti biasa pemilihan gunung semeru ini dilakukan dengan cara diskusi di grup bbm, pada pendakian kali ini beranggotakan 6 orang yang terbagi 2 kelompok yakni dari nganjuk terdiri dari Edres, Elda, Yoga dan Yayak dan dari Surabaya adalah saya dan Udin. Kami berangkat tepat pukul 7 malam secara bersamaan karena memang jarak antara Surabaya -Tumpang dan Nganjuk – Tumpang hampir sama yang diharapkan bisa sampai di tumpang secara bersamaan,namun masalah terjadi karena setelah saya dan udin telah tiba terlebih dahulu di tumpang, rombongan yang dari Nganjuk ternyata malah salah arah dan justru lewat rute memutar yakni lewat probolinggo, dan kamipun memutuskan untuk melakukan istirahat di tempat masing-masing, saya dan udin di tumpang dan teman-teman lainnya di bromo dan berencana ketemu esok harinya di  basecamp ranu pani. Lagi-lagi saya dan udin tiba terlebih dahulu di basecamp ranu pani, karena telah menunggu lama tak kunjung datang dan tidak bisa dihubungi, dengan perasaan yang campuraduk saya dan udin pun mengikuti breafing terlebih dahulu sembari mengkontak teman-teman yang sedang tawaf digunung bromo tersebut. Setelah breafing selesei akhirnya  merekapun tiba dengan wajah yang sangat menggemaskan wkwk. Dan kamipun segera melakukan regristrasi untuk melakukan pendakian gunung. Pada waktu itu pendakian semeru masih manual tidak seperti sekarang yang harus melakukan pendaftaran secara online dulu. Setelah selesei regristasi dan sarapan kami segera melakukan packing seperti biasa dan selanjutnya melakukan pendakian yang tentunya harus diawali dengan doa.
Perjalanan dari basecamp hingga surganya semeru yakni ranu kumbolo hampir tidak ada masalah apapun dan setelah melakukan pendakian selama kurang dari 4 jam kami sampai di danau ranu kumbolo dan segera untuk istirahat dan makan siang karena tiba sekitar jam 2, setelah kurang lebih satu jam istirahat kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan untuk ke kalimati dan inilah awal kesalahan kami, dengan sisa tenaga yang tersisa dan setelah melakukan pendakian selama 4 jam akhirnya kami tiba di kalimati waktu hari sudahpetang, segera kami mendirikan tenda dibawah rintik hujan yang membuat badan semakin malas bergerak, setelah tenda terpasang kami lanjut memasak untuk makan malam dan selanjutnya istirahat untuk mengumpulkan tenaga untuk muncak. Pukul 12 tepat pun kami bangun namun anggota kami ada yang mengurungkan niat untuk muncak karena tenaga sudah terkuras habis dan cuacapun sebenarnya juga sangat tidak mendukung, dengan berat hati kamipun semua sepakat mengurungkan niat untuk tidak muncak dan melanutkan untuk istirahat.dan esoknya kami bangun dengan perasaan yang campur antara sedih, kecewa, ingin marah karena hanya dapat melihat puncak mahameru dari kalimati. Dan kamipun melakukan perjalanan turun hari itu juga karena tidak ingin berlama-lama dengan rasa kecewa tersebut.
Setelah sampai basecamp kamipun segera keparkiran dan lanjut untuk melakukanperjalanan pulang, setelah berkendara selama 10 menit masalah besarpun datang lagi, motor matic yang ditumpangi edres dan yayak mengalami rem blong/ tidak dapat digunakan untuk mengerem. Hal ini tentu sangat beresiko mengingat jalur yang turun sangat curam. Dengan sesekali mengakali rem dengan menggunakan tang kamipun turun dengan amat pelan dan hati-hati dan sesekali mengakali rem lagi dengan tang. Setelah kuramg lebih 2 jam perjalanan turun tersebut akhirnya kami sampai di tumpang dan segera pergi ke bengkel untuk servis rem dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
Dari pengalaman tersebut banyak pelajaran yang kami terima sebagai pendaki pemula, yakni tentang manajemen keberangkatan yang ambruladul, perlunya mengetahui medan pendakian, perlunya kesiapan fisik, dan perlunya mengontrol  sebuah egomasing-masing. Kami memang dapat dikatakan gagal dalam pendakian kali ini, namun kami masih beruntung tidak melakukan kesalahan fatal dengan tidak nekat untuk muncak karena kami masih paham karena keselamatan adalah yang palig penting dalam pendakian, meskipun pada pendakian kali ini masih banyak kesalahan yang kami lakukan yang sebenarnya membahayakan bagi kami sendiri. Dengan kegagalan ini kami jadi mengerti bagaimana seharusnya mendaki yang benar, tidak hanya menuruti ego, berfikiran yang penting naik dulu, yang penting foto diatas dan melakukan hal bodoh lagi digunung.
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, kegagalan adalah pelajaran yang sangat berharga.
Sekian dari saya, mendakilah dengan penuh tanggung jawab karena itulah tujuan utama sebenarnya.
Salam lestari.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home